Sejarah Kerajaan CHAMPA Di Vietnam


Sejarah Kerajaan CHAMPA Di Vietnam
SEJARAH KERAJAAN CHAMPA DI VIETNAM
Sunan Gresik dan Sunan Ampel adalah dua Walisongo yang berasal dari Champa, sebuah kawasan yang kini lebih dikenal sebagai Vietnam Tengah dan Selatan.

Kerajaan Champa mulai berdiri pada tahun 192 M, dengan nama Lin Yi. Kerajaan Lin Yi didirikan oleh seorang pejabat lokal bernama Ku-Lien yang memberontak terhadap Kekaisaran Han pada tahun 192 masehi.

Kerajaan ini merupakan gabungan dari kota-kota yang mempunyai kekuasaan di wilayahnya masing-masing, yaitu Inderapura (sekarang bernama Dong Duong), Amaravati (sekarang bernama Quang Nam), Vijaya (sekarang bernama Cha Ban), Kauthara (sekarang bernama Nha Trang), Panduranga (sekarang bernama Phan Rang).

Setelah abad ke-7 wilayah kekuasaan kerajaan Champa meliputi wilayah-wilayah yang sekarang bernama: Quang Nam, Quang Ngai, Binh Dinh, Phu Yen, Khanh Hoa, Ninh Thuan, dan Binh Thuan.

Asal-usul masyarakat Champa atau Urang Champa adalah Melayu-Polinesia yang menduduki nusantara pada abad sebelum masehi. Masyarakat Champa yang mata pencahariannya berdagang ini pada awalnya menganut agama Hindu Siwa. Namun pada masa pemerintahan Raja Inderawarman II, beralih ke Buddha Mahayana. Kemudian, pada abad ke-13 barulah menganut agama Islam.

Masyarakat Champa yang menganut budaya Matrilineal ini bermusuhan dengan orang-orang Khmer (Kamboja) dan Dai Viet (Vietnam) yang masih berlangsung hingga sekarang.

Ibu kota kerajaan Champa pada mulanya terletak di Inderapura pada tahun 875 masehi. Namun pada tahun 982 masehi kerajaan Dai Viet menyerang kerajaan Champa, menyebabkan ibukota kerajaan Champa beralih ke Vijaya.

Kerajaan Dai Viet kembali menyerang kerajaan Champa di Vijaya pada tahun 1021, 1026, dan 1044 masehi. Kemudian pada tahun 1069, Dai Vet tidak hanya menyerang tetapi juga menghancurkan kota Vijaya. 

Kota Vijaya semakin luluh lantak ketika diserang Kerajaan Khmer pada tahun 1080. Pada tahun 1145 masehi kerajaan Khmer menyerang lagi. Barulah pada tahun 1177, masyarakat Champa melakukan serangan balasan ke ibu kota Khmer, dan membunuh rajanya.

Pada masa kepemimpinan Le Thanh Ton (1460 – 1479 M), pada tahun 1471, kerajaan Dai Viet, berhasil merampas Vijaya. Kemenangan kerajaan Dai Viet tersebut membuat raja Dai Viet menjadikan Amaravati dan Vijaya sebagai bagian dari kerajaannya. Sejak itu kerajaan Champ di Vijaya tidak berbentuk konfederasi kota lagi. Dengan kekalahan tersebut, Urang Champa bermigrasi ke Panduranga, dan menjadikannya sebagai ibu kota.

Perpindahan ibu kota Champ di Panduranga, membawa corak baru bagi kebudayaannya. Di sini, Islam mulai berkembang di masyarakat Champa secara luas. Bahasa Sanskrit yang digunakan sebagai bahasa resmi, tidak digunakan lagi, diganti dengan bahasa Melayu yang digunakan secara luas.

Kerajaan Champa juga mempunyai hubungan dengan kerajaan-kerajaan di nusantara, yaitu kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Majapahit.

Catatan-catatan di Indonesia menunjukkan pengaruh Putri Darawati, seorang putri Champa yang beragama Islam, terhadap suaminya, Kertawijaya, Raja Majapahit ketujuh sehingga keluarga kerajaan Majapahit akhirnya memeluk agama Islam.

Makam Putri Champa dapat ditemukan di Trowulan, situs ibukota Kerajaan Majapahit. Selain itu, dalam Babad Tanah Jawi, dikatakan bahwa Raja Brawijaya V memiliki istri bernama Amarawti (atau Dwarawati), seorang puteri dari Kerajaan Champa yang beragama Islam. Beberapa Walisongo juga pernah bermukim di Kerajaan Champa sebelum menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.

Pada tahun 1695, penguasa Champa di Pandurangan melakukan perlawanan terhadap Vietnam. Namun kalah. Sehingga, kerajaan Champa menjadi negara bawahan Kaisar Gia Long dari Dinasti Nguyen. Pada tahun 1832, kerajaan Champa dibubarkan oleh Kaisar Minh Mang, anak Kaisar Gia Long.

Saat ini, Urang Champa tersebar di delapan negara, yaitu Vietnam, Kamboja, Indonesia, USA, Thailand, Laos, dan Perancis.
LihatTutupKomentar