SEJARAH WALI SONGO SUNAN GIRI DARI BLAMBANGAN

BREAKING NEWS

Advertisement

SEJARAH WALI SONGO SUNAN GIRI DARI BLAMBANGAN

Monday, March 30, 2020

SEJARAH WALI SONGO SUNAN GIRI DARI BLAMBANGAN
SEJARAH WALI SONGO SUNAN GIRI DARI BLAMBANGAN

Blambangan adalah nama klasik dari Banyuwangi di ujung Jawa Timur. Di sinilah Sunan Giri dilahirkan pada tahun tahun 1442.

Nama lain Sunan Giri adalah Joko Samudro, Raden Paku, Raden 'Ainul Yaqin, Prabu Satmoto, dan Sultan Abdul Faqih.

Sunan Giri lahir dari pasangan Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu. Maulana Ishaq merupakan salah satu mubaligh Islam yang berasal dari Asia Tengah. Sedangkan Dewi Sekardadu merupakan salah satu putri Prabu Menak Sembuyu, penguasa di wilayah Blambangan terutama pada masa puncak kekuasaan kerajaan Majapahit.

Ketika Sunan Giri lahir, Blambangan terjangkiti wabah penyakit. Hal ini dimaknai bahwa kelahiran Sunan Giri membawa kutukan. Untuk melepas kutukan itu, maka sang kakek Prabu Menak Sembuyu memohon agar sang bayi dilarung ke laut. Maka, Dewi Sekardadu pun menuruti permohonan ayahandanya, melarung Sunan Giri ke Selat Bali.

Peti berisi bayi Sunan Giri yang dilarung itu, kemudian ditemukan oleh Sabar dan Sobir, pelaut yang bertugas di kapal milik Nyai Gede Pinatih, syah bandar dari Gresik. Maka, Sunan Gresik pun diadopsi oleh Nyai Gede Pinatih dan memberinya nama Joko Samudro, karena ditemukan di tengah laut.

Pada usia belasan Sunan Giri disekolahkan ke sebuah pesantren yang didirikan Sunan Ampel. Selama menuntut ilmu di pesantren Ampel inilah beliau diberi nama julukan Raden Paku. Setelah tujuh tahun memperdalam ilmu agama Islam di pesantren Ampel, beliau diberi gelar Raden ‘Ainul Yaqin ketika lulus.

Kecerdasan Sunan Giri membuat Sunan Ampel terkesan, apalagi beliau adalah putra kandung dari Maulana Ishaq yang dihormati. Maka, Sunan Ampel merekomendasikan Sunan Giri bersama Sunan Bonang mendalami ilmu agama ke Pasai. Mereka menuntut ilmu hingga benar-benar menguasai dan memiliki bekal untuk pulang.

Kembali dari Pasai, Sunan Giri mendirikan sebuah pesantren di daerah perbukitan di kawasan Sidomukti, kota Gresik pada tahun 1481 masehi. Pesantren tersebut berkembang sangat pesat hingga menjadi sebuah kerajaan, kemudian diberi nama Kerajaan Giri Kedaton.

Pada tahun 1485 masehi, Sunan Giri diangkat oleh seorang sultan Demak Bintaro sebagai Ahlul Halli Wal Aqdi, seorang penentu kebijakan pemerintah dalam menyebarkan Agama Islam yang berada di Pulau Jawa.

Kemudian pada tanggal 9 Maret tahun 1487 masehi, Sunan Giri diangkat oleh Raden Patah menjadi Raja Giri Kedaton dengan gelar Prabu Satmoto. Tanggal 9 Maret kemudian dijadikan sebagai hari jadi Kota Gresik.

Sunan Giri sangat terkenal dengan ilmu pengetahuannya yang cukup mendalam di bidang ilmu fiqih, sehingga beliau diberi julukan Sultan Abdul Faqih.

Di bidang kesenian, Sunan Giri menghasilkan karya seni yang cukup populer hingg kini. Ada permainan sekaligus tembang seperti Cublak-cublak Suweng, dan Jamuran. Ada permainan sejenis petak umpet dengan nama berbeda antara lain Jithungan, Jelungan atau Dhelikan.

Selain itu, Sunan Giri identik dengan gending Pucung dan gending Asmaradhana, berisi ajaran Islam bernuansa Jawa, sarat pesan moral dan nasehat.

Sunan Giri wafat pada usia 63 tahun, pada tanggal 24 Rabiul Awwal 913 Hijriyahatau tahun 1506 masehi, dan dimakamkan di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur.

Featured Post

Lowongan Kerja Staf Dubes Kementerian Luar Negeri Pendaftaran Dibuka 1 Agustus

KARAWANGPORTAL -  Disalin dari halaman tribunnewswiki Lowongan kerja di Kementerian Luar Negeri dibuka. Kementerian Luar Negeri membu...