SEJARAH WALI SONGO Sunan GUNUNG JATI Dari Mesir Ke Cirebon

BREAKING NEWS

Advertisement

SEJARAH WALI SONGO Sunan GUNUNG JATI Dari Mesir Ke Cirebon

Sunday, April 5, 2020

SEJARAH WALI SONGO Sunan GUNUNG JATI Dari Mesir Ke Cirebon
SEJARAH WALI SONGO Sunan GUNUNG JATI Dari Mesir Ke Cirebon
Wali kesembilan Sunan Gunung Jati termasuk yang berusia panjang. Beliau lahir pada tahun 1448 masehi, wafat pada tahun 1568 masehi. Sekitar 120 tahun.

Ayahandanya adalah Syarif Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alam, sedangkan ibundanya bernama Nyai Rara Santang atau Syarifah Muda’im.

Syarif Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alam, ayahanda Syarif Hidayatullah adalah seorang penguasa Mesir, putra dari Ali Nurul Alim bin Jamaluddin Akbar al-Husaini. Sedangkan Nyai Rara Santang atau Syarifah Muda’im adalah putri Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari Kerajaan Padjajaran.

Menurut kitab Carita Purwaka Caruban Nagari, Nyai Rara Santang setelah masuk Islam kemudian menunaikan ibadah haji, ditemani sang kakak Pangeran Cakrabuwana.

Selain berhaji, putra dan putri Prabu Siliwangi ini juga menyempatkan diri berguru kepada salah satu syekh di Makkah. Suatu ketika, saat sedang menuntut ilmu, mereka kedatangan tamu, utusan Sultan Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alam dari Mesir. Tujuannya, menyampaikan maksud Sultan Abdullah mempersunting Nyai Rara Santang.
 

Pinangan itu diterima. Pernikahan berlangsung di Mesir. Pangeran Cakrabuwana bertindak sebagai wali nikah. Pangeran Cakrabuwana, sang kakak, sempat selama enam bulan bermukim di Mesir menemani sang adik, selanjutnya kembali ke Jawa.

Dari pernikahan itu lahirlah Syarif Hidayatullah. Semula, Syarif Hidayatullah tinggal bersama kedua orang tuanya di Mesir, namun setelah beranjak dewasa memutuskan berdakwah ke tanah Jawa untuk melaksanakan niatnya menyebarkan Islam.

Selain belajar agama di negeri kelahirannya, Syarif Hidayatullah juga pernah belajar agama kepada Syekh Datuk Kahfi, tokoh perintis dakwah Islam di wilayah Cirebon. Syekh Datuk Kahfi ini merupakan guru dari Pangeran Cakrabuwana dan Nyai Rara Santang alias Syarifah Muda’im.

Setelah sekian lama Syarif Hidayatullah ditinggal wafat ayahandanya, maka pada tahun 1470 bersama sang ibunda, mereka kembali menginjakkan kakinya di Cirebon. Langkah dakwah Syarif Hidayatullah mendapat dukungan dari Kesultanan Demak. Juga, mendapat dukungan dari Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuwana, Raja Cirebon pertama sekaligus pamannya dari pihak ibu.

Bersama Raden Cakrabuwana, Syarif Hidayatullah berkesempatan berdakwah hingga ke Banten. Di Banten, Syarif Hidayatullah berjodoh dengan Nyai Kawung Anten, putri dari Sang Surosowan.

Dari pernikahan itu, lahir dua orang anak yaitu Ratu Winaon atau Ratu Wulung Ayu yang lahir pada tahun 1477 masehi, dan Pangeran Maulana Hasanuddin atau Pangeran Sabakingkin yang lahir pada tahun 1478 masehi. Kelak, Pangeran Maulana Hasanuddin menjadi Raja Banten pertama.

Pada tahun 1479, Syarif Hidayatullah dinobatkan menjadi Raja Cirebon ke-2 dengan gelar Maulana Jati.

Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati bukanlah Raden Fatahillah atau Falatehan. Karena, Raden Fatahillah adalah seorang pejuang Demak yang berasal dari Negeri Pasai atau Malaka.

Ketika wilayah Malaka jatuh ke tangan Portugis, Raden Fatahillah berpindah dari Malaka ke Demak. Selanjutnya Raden Fatahillah ditugaskan ke Jawa Barat. Raden Fatahillah bersama dengan para pengikut Sunan Gunung Jati menyerang Banten dan Sunda Kelapa yang dikuasai oleh Padjajaran.

Syarif Hidayatullah wafat pada tanggal 26 Rayagung tahun 891 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1568 Masehi. Jasad beliau dimakamkan di Bukit Gunung Jati. Dari sinilah nama Sunan Gunung Jati disematkan kepada Syarif Hidayatullah.

Featured Post

Skenario Ganjil Genap 24 Jam Diseluruh Jalanan Jakarta Berlaku di 25 Ruas Jalan

Skenario Ganjil Genap 24 Jam Diseluruh Jalanan Jakarta Berlaku di 25 Ruas Jalan KARAWANGPORTAL - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI J...