SEJARAH WALI SONGO SUNAN KALIJAGA ROBINHOOD TUBAN


SEJARAH WALI SONGO SUNAN KALIJAGA ROBINHOOD TUBAN
SEJARAH WALI SONGO SUNAN KALIJAGA ROBINHOOD TUBAN
Kiprah Raden Said sebelum jadi pendakwah Islam, seperti ada kemiripan dengan Robin Hood, sosok fiktif bangsawan Inggris yang merampok untuk dibagikan kepada rakyat miskin.

Sebagai anak Adipati Tuban, Raden Said galau melihat keadaan masyarakat Tuban yang menderita akibat kemarau panjang. Maka, dia bobol gudang logistik kadipaten, menjarah isinya, untuk dibagikan kepada rakyat yang memerlukan.

Aksi kriminal yang amatiran ini, mudah diidentifikasi, bahkan tertangkap tangan. Maka, Raden Said pun dihadapkan kepada ayahnya sendiri, yang serta-merta memberi hukuman. Raden Said diusir.

Bukannya kapok, Raden Said malah jadi perampok dadakan. Sasarannya adalah para orang kaya di Kadipaten Tuban. Hasil rampokannya dibagikan kepada rakyat miskin.

Pada salah satu aksinya, Raden Said tertangkap, kemudian dihadapkan kepada ayahnya lagi. Kali ini hukumannya lebih berat, sang ayah mengusir Raden Said keluar dari Kadipaten.

Langkah kaki Raden Said pasca diusir, membawanya ke kawasan hutan di Jati Sari. Di hutan ini Raden Said merasa mendapat sasaran yang layak untuk dirampok. Maka terjadilah. Ternyata, sasaran rampoknya adalah Sunan Bonang.

Dengan susah payah Raden Said berusaha melumpuhkan Sunan Bonang. Untuk melunakkan hati sasarannya, Raden Said mengatakan bahwa hasil rampokannya akan dibagikan kepada rakyat miskin.

Sunan Bonang menasehatinya, bahwa merampok untuk dibagikan kepada rakyat miskin adalah perbuatan tercela. Kharisma Sunan Bonang menyergap kalbu Raden Said yang pada dasarnya mulia. Raden Said tersadar, dan memohon untuk berguru kepada Sunan Bonang.

Selama menjadi murid Sunan Bonang Raden Said mempelajari banyak ilmu, seperti seni, buda dan sastra Jawa, ilmu falak, disamping tentunya ilmu agama itu sendiri.

Setelah sekian lama beguru, Sunan Bonang menyarankan agar Raden Said berhaji ke tanah suci. Di tanah suci Raden Said juga berguru kepada sejumlah tokoh.

Sepulang dari tanah suci Raden Said  kembali ke Jawa dan mengawali dakwah di daerah Cirebon, tepatnya di desa Kalijaga. Saat berdakwah di Cirebon inilah Raden Said sering terlihat kungkum di kali, bagai orang yang sedang menjaga kali. Kemungkinan dari sinilah nama Sunan Kalijaga berasal. Selain Cirebon, Raden Said juga berdakwah ke Indramayu dan Pamanukan.

Raden Said lahir pada tahun 1450 dari pasangan Raden Ahmad Sahuri dan Dewi Nawangarum. Nama lain Raden Said antara lain Syeikh Melaya, Lokajaya, Raden Abdurrahman, Pangeran Tuban, Ki Dalang Sida Brangti, Ki Dalang Kumendung, Ki Dalang Bengkok, dan Ki Unehan.

Raden Said menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak, dan mempunyai tiga tiga orang anak, yaitu Raden Umar Said (kelak dikenal sebagai Sunan Muria), Dewi Rukayah dan Dewi Sofiah.

Dakwa
h Raden Said alias Sunan Kalijaga menjangkau masyarakat luas, dari kalangan ningrat hingga rakyat, dari kalangan dewasa hingga anak-anak. Dari kalangan bromocorah, preman, berandalan, hingga bangsawan dan pejabat tinggi pemerintahan.

Sunan Kalijaga juga dikenal sebagai kreator seni batik bermotifkan burung dalam beragam bentuk, juga kreator baju takwa. Termasuk Surjan Jawa yang semula lengan pendek, dimodifikasi menjadi lengan panjang.

Sunan Kalijaga juga identik dengan tembang Jawa berjudul LIR ILIR. Sunan Kalijaga juga dikenal sebagai kreator Gong Sekaten. Nama sekaten berasal dari kata syahadatain yaitu dua kalimat syahadat.

Sunan Kalijaga membuat wayang kulit yang merupakan hasil pengembangan dari wayang beber. Sunan Kalijaga juga berperan dalam pembangunan masjid Demak, terutama dalam membuat soko tatal yaitu tiang yang terbuat dari serpihan-serpihan kayu.

Sunan Kalijaga konon hidup hingga sekitar seratus tahun lebih. Ketika wafat, jasad beliau dimakamkan di Desa Kadilangu, dekat kota Demak (Bintara).
LihatTutupKomentar