Membidik Telkom, Menembak Denny Siregar. Besok Mau Menembak Seword?

BREAKING NEWS

Advertisement

Membidik Telkom, Menembak Denny Siregar. Besok Mau Menembak Seword?

Thursday, July 9, 2020

Membidik Telkom, Menembak Denny Siregar. Besok Mau Menembak Seword?
Membidik Telkom, Menembak Denny Siregar. Besok Mau Menembak Seword?
KARAWANGPORTAL - Hello warganet di salin dari halaman Seword,com Menemukan “celah” yang pas untuk masuk ke dalam sebuah permasalahan sangat memerlukan keahlian dan kecerdasan untuk mampu memilah dari sekian banyak kejadian yang terjadi, kejadian yang mana yang pas yang bisa dipakai sebagai “celah”. Karena jika salah dalam memilih kejadian dan ternyata kejadian itu tidak pas untuk dijadikan “celah”, resiko mencelakaan atau merugikan diri sendiri pun akan menimpa.

Teori yang saya ungkap di atas, saya terapkan pada kejadian Ahok dan Ratna Sarumpaet. Dua kejadian yang mereka jadikan “celah” untuk membuat kegaduhan di atas panggung perpolitikan. Pada kasus Ahok, saat ahok kepeleset lidah membawa-bawa Surat Al Maidah di dalam pidatonya, mereka melihat ini “celah emas” yang tidak boleh gagal didulang. Untuk mendulang emas sebesar Ahok, mereka formasikan antara Rizieq Shihab, Anies Baswedan dan Eep Saefuloh. Rizieq Shihab mengusung isu agama bahwa apa yang Ahok lakukan adalah sebuah penistaan agama. Eep Saefuloh mengusung isu “ayat dan mayat” dan Anies Baswedan diusung sebagai solusi untuk melaksanakan ayat dan menyelenggarakan mayat.

Kejadian Ahok ini sudah diperhitungkan dengan matang. Jika formasi Rizieq Shihab, Anies Baswedan dan Eep Saefuloh gagal melengserkan Jokowi, paling tidak Jakarta sebagai Ibu Kota Negara sudah dikuasai mereka. 

Seharusnya mereka berhenti dan nikmasi saja kemenangan menguasai Ibu Kota. TApi ambisi untuk melengserkan Jokowi, dan memandang Jokowi adalah sebuah ancaman karena mereka tak mau melihat adanya perubahan pada kehidupan mereka sebagai raja Mafia, terus menguasai napsu durjana. Maka dicarilah celah kedua. Tapi celah itu tak kunjung datang, sementara Jokowi sudah hampir bisa dipastikan menang dalam Pilpres 2019. Maka mereka pun mengambil keputusan untuk merekayasa sebuah kejadian. 

Dipilihlah kejadian muka bengep Ratna Sarumpaet pasca oplas, menjadi bengep karena dianiaya. Cerita dan rencanapun disusun dalam waktu semalam dengan mengusung jargon “Pemimpin rezim telah menganiaya emak-emak”. Sayangnya, perhitungan mereka salah terhadap kejelian netizen +62 dan kecepatan polisi bertindak. Hingga akhirnya celah kedua ini berubah menjadi bumerang. Ratna Sarumpaet berakhir di penjara. Dan Jokowi memenangkan Pilres 2019. 

Bandarpun murka! Biaya yang sudah dikeluarkan hilang dengan hasil yang sangat mengecewakan. Dengan mata nanar, mereka membayangkan kehidupan di jaman Jokowi yang akan penuh penderitaan. “Tidak! Tidak bisa kita harus menerima kekalahan! Ganti strategi, pakai taktik “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit!”. 

Mulai dari menyebarkan pemahaman sesat tentang pasal-pasal di dalam RKUHP, seperti istri bisa mempidanakan suami jika memaksa berhubungan, atau ayam yang masuk pekarangan tentang bisa didenda hingga 10 Juta, lalu kasus Novel Baswedan yang digaungkan sebagai bukti pengabaian Jokowi. Dan tiba-tiba muncul Pandemi Corona! Namun, Jokowi tetap tak bisa dikalahkan karena dilindungi undang-undang konstitusional. 

Dan hari ini…
Mereka telah memilih Denny Siregar menjadi celah kedua seperti Ahok, namun dengan strategi yang berbeda. 

Pada Kasus Denny Siregar atau DS, saya tidak yakin, kalau DS adalah sasaran untuk dijatuhkan. Terlalu kecil seorang DS ini. DS ini siapa memang? Dulu Ahok adalah Gubernur Jakarta dan sahabat dekat Jokowi. Sedangkan DS? Dia hanya pendukung militan Jokowi. DS hanya rakyat jelata yang tidak punya kekuasaan apapun di dalam jajaran pemerintahan. 

Tapi jangan salah, orang kalau mancing ikan di kolam atau di laut sekalipun, memangnya umpannya ikan hiu? Pasti pakai umpan cacing, bukan? Dan Denny Siregar adalah “cacing” bagi mereka. 

Status media sosial yang ditulis DS adalah kerikil yang mereka lempar. Tapi DS malah tambah nakal. Lalu mereka sebarkan informasi confidensial milik Telkom dengan harapan DS akan menggugat Telkom karena telah melanggar undang-undang atas bocornya informasi confidensial tersebut. 

Dengan sangat mudah orang menebak, "Telkom kalah telak karena bocornya informasi pribadi pelanggan. Malaikat saja tak akan sanggup menolong Telkom". Hampir semua orang menaroh taruhan mereka di atas kemenangan DS di proses hukum melawan Telkom. Hingga masyarakat mulai terteriak, "BUMN Sampah!". Kritikan dan hujatan dihujamkan tak hanya sebatas pada Telkomsel saja, tapi Erick Thohir dan Jokowi pun ikut menerima krtiikan dan hujatan. Dan itu yang menjadi target mereka!

Aaaaah ternyata, DS itu cuma alat serang, bidikan mereka yang sebenarnya adalah BUMN Telkom yang berada di bawah naungan Kementerian Komunikasi dan Informasi, yang notabene berada di bawah Jokowi. Kalau DS berkeras untuk berjibaku melawan Telkom di ranah hukum, para Bandar ini tak perlu menurunkan jutaan umat turun ke jalan. Cukup menonton dari televisi ukuran 105 inchi di rumahnya dan menunggu apa putusan hakim di Pengadilan. Karena kalau putusan hakim memenangkan DS, maka mulai dari Telkomsel, hingga Presiden Jokowi akan merasakan imbas kekalahan. 

Tapi apakah kasus DS VS Telkom akan menghentikan para pengkhianat bangsa ini berhenti? Saya yakin tidak. Lalu siapa lagi pihak-pihak yang akan mereka jadikan sasaran tembak? Seword? atau bahkan rakyat jelata yang lahir dari batu? Entahlah... yang pasti mereka tidak akan berhenti sampai Indonesia kembali dikuasai.Seword,com

Featured Post

Pendaftaran CPNS 2021 Dibuka Kembali

Pendaftaran CPNS 2021 Dibuka Kembali KARAWANGPORTAL - Pemerintah memutuskan tak akan membuka tes seleksi calon pegawai negeri sipil (CP...