Notification

×

Iklan

Iklan

Ribuan Orang Berunjuk Rasa di Hungaria, Pertanyakan Operasi Spyware Pegasus

Tuesday, July 27, 2021 | 11:14 WIB Last Updated 2021-07-27T04:14:36Z
karawang portal
Ilustrasi | Foto: freepik.com

 

KARAWANGPORTAL - Pemerintah Hungaria mendapat kritik keras dari sekitar 1.000 demonstran yang turun ke jalan di ibu kota negara itu pada Senin (26 Juli 2021). Mereka meminta jawaban menyangkut dugaan pemerintah menggunakan spyware untuk diam-diam memantau jurnalis, pengacara, dan tokoh bisnis yang kritis, tulis Associated Press, diakses Selsa (27 Juli). 

Unjuk rasa itu berangkat dari laporan Amnesty International dan konsorsium media, Forbidden Stories, berbasis di Paris yang menyebutkan bahwa 50.000 orang dimata-matai oleh spyware Pegasus. Di negara Eropa Tengah itu diduga ada 300 orang menjadi target spyware, termasuk di dalamnya 10 pengacara dan lima jurnalis. 

Media investigasi Hungaria, Direkt36, yang turut menurunkan laporan itu juga menyebutkan bahwa presiden Asosiasi Pengacara Hungaria, mantan sekretaris negara, dan wali kota oposisi menjadi target mata-mata “Skandal ini menunjukkan bahwa kita tidak dapat lagi berbicara tentang supremasi hukum di Hungaria. 

Tuntutan kami adalah pengunduran diri pemerintah,” ujar Anna Donat, anggota parlemen Hungaria di badan legislatif Uni Eropa yang ikut dalam demonstrasi. Demonstrasi diikuti oleh sejumlah anggota politisi oposisi yang sering mengkritik kebijakan Perdana Menteri Viktor Orban dan partainya, Fidesz. 

Pegasus dikenal sebagai malware jahat yang diproduksi oleh NSO Group, perusahaan perangkat lunak asal Israel. Peranti lunak spionase ini mengumpulkan data pribadi dan informasi lokasi dan secara diam-diam bisa mengontrol kamera dan mikrofon smartphone. 

Beberapa kali, NSO Group membantah bahwa Pegasus buatannya dipakai untuk memata-matai. Perusahaan menyebut laporan media tersebut sebagai "penuh dengan asumsi yang salah dan teori yang tidak didukung". 

Selama ini Pegasus diproduksi hanya untuk digunakan oleh badan intelijen dan penegak hukum pemerintah untuk memerangi terorisme dan kejahatan, tutur perusahaan. Sementara, Menteri Kehakiman Hungaria, Judit Varga, menyangkal tudingan laporan media tersebut karena pemerintah tak pernah memakai Pegasus. “Ini ilusi jika ada yang mencoba mempermasalahkannya,” ujar Varga. 

Namun, ia mengatakan, semua aktivitas pengawasan rahasia memang ada dan berjalan sesuai dengan hukum yang berlaku. Pekan lalu, tiga anggota oposisi komite keamanan nasional parlemen Hungaria menyerukan sesi darurat untuk menanyai lembaga pemerintah tentang potensi keterlibatan mereka dalam mata-mata. 

Tetapi pada Senin, anggota komite Fidesz, yang mewakili mayoritas kursi, memboikot sesi tersebut, mencegah interogasi Menteri Dalam Negeri Sandor Pinter.[] cyberthreat.id

×
Berita Terbaru Update