Sejarah Sunan DRAJAT Berdakwah Lewat Tembang PANGKUR

BREAKING NEWS

Advertisement

Sejarah Sunan DRAJAT Berdakwah Lewat Tembang PANGKUR

Thursday, March 19, 2020

Sejarah Sunan DRAJAT Berdakwah Lewat Tembang PANGKUR
Sejarah Sunan DRAJAT Berdakwah Lewat Tembang PANGKUR
Ketika Sunan BONANG berusia sekitar lima tahun, lahirlah adik lelakinya pada tahun 1470 masehi, yang kemudian diberi nama Raden Qasim.

Sebagai adik, Raden Qasim tertarik dengan kiprah Sunan Bonang, sang kakak, berdakwah tentang Islam. Ketertarikan Raden Qasim ini dilihat oleh sang Ayah, Sunan Ampel.

Maka, Sunan Ampel pun memberi semangat kepada Raden Qasim untuk juga berdakwah, khususnya di pesisir barat Gresik. Kemudian, berangkatlah Raden Qasim dari Surabaya dengan menumpang perahu nelayan.

Di tengah perjalanan, perahunya terseret badai dan pecah dihantam ombak di daerah Lamongan, sebelah barat Gresik. Raden Qasim selamat karena berpegangan pada kayuh dan terdampar di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Kampung Jelak, Banjarwati.

Raden Qasim kemudian menetap di Jelak, dan menikah dengan Kemuning, putri Mbah Mayang Madu, tetua kampung. Di Jelak, Raden Qasim mendirikan surau, tempat mengaji ratusan penduduk.

Kiprah dakwah Raden Qasim di Jelak, membuat dusun yang semula terpencil, berkembang menjadi kampung besar yang ramai. Nama Jelak pun berubah menjadi Banjaranyar. Tiga tahun kemudian, Raden Qasim pindah ke selatan, sekitar satu kilometer dari Jelak. Tempat itu dinamai Desa Drajat.

Raden Qasim pun mulai dipanggil dengan nama Sunan Drajat oleh para pengikutnya. Namun, beliau tidak lama menetap di Desa Drajat, karena tempat tersebut dinilai tidak strategis sebagai pusat dakwah.

Sunan Drajat kemudian meminta sebidang tanah baru di daerah perbukitan sebelah selatan kepada penguasa Lamongan kala itu, Sultan Demak, Raden Patah. Setelah mendapat izin, Sunan Drajat bersama pengikutnya membuka lahan baru, membangun pemukiman baru seluas 9 hektare, membangun masjid sebagai pusat dakwah. Kediaman Sunan Drajat ini dikenal dengan nama Ndalem Duwur, Lamongan.

Sunan Drajat mengajarkan sikap mulia yaitu agar tidak saling menyakiti secara lisan maupun perbuatan. “Bapang den simpangi, ana catur mungkur.” Artinya, “hindari pertengkaran, agar tidak terjadi perang mulut.” Namun ada juga yang mengartikannya dengan: “Jangan mendengarkan pembicaraan yang menjelek-jelekkan orang lain, apalagi melakukan perbuatan itu.”

Sunan Drajat dalam menyampaikan ajaran Islam, menempuh lima cara. Pertama, lewat pengajian secara langsung di masjid atau langgar. Kedua, melalui penyelenggaraan pendidikan di pesantren. Ketiga, memberi petuah dalam menyelesaikan suatu masalah. Keempat, melalui kesenian tradisional. Kelima, menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional, sepanjang tidak bertentangan dengan Islam.

Sunan Drajat kerap berdakwah lewat tembang pangkur. Pangkur merupakan singkatan dari Pangudi Isine Qur’an. Tembang Pangkur dinyanyikan bersama alunan gamelan Singo Mengkok milik Sunan Drajat.

Empat pokok ajaran Sunan Drajat adalah (1) Paring teken marang kang kalunyon lan wuta (berikan tongkat kepada orang buta), (2) paring pangan marang kang kaliren (berikan makan kepada yang kelaparan), (3) paring sandang marang kang kawudan (berikan pakaian kepada yang telanjang), (4) paring payung kang kodanan (berikan payung kepada yang kehujanan).

Makna filosofis dari empat ajaran pokok Sunan DRajat adalah: agar kita memberikan ilmu dan petunjuk kepada orang-orang yang buta hati dan nalar; agar kita berusaha menyejahterakan kehidupan orang-orang miskin; agar kita tak lelah mengajarkan kesusilaan kepada orang-orang yang tidak tahu malu; dan agar kita rela memberikan perlindungan kepada orang-orang yang menderita.

Sunan Drajat wafat pada tahun 1522, dan dimakamkan di Ndalem Duwur, Lamongan.

Featured Post

Pendaftaran CPNS 2021 Dibuka Kembali

Pendaftaran CPNS 2021 Dibuka Kembali KARAWANGPORTAL - Pemerintah memutuskan tak akan membuka tes seleksi calon pegawai negeri sipil (CP...