Sejarah Sunan KUDUS Dari PALESTINA Berdakwah Ke JAWA

 
Sejarah Sunan KUDUS Dari PALESTINA Berdakwah Ke JAWA
Sejarah Sunan KUDUS Dari PALESTINA Berdakwah Ke JAWA
Nama lahir Sunan Kudus adalah Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan. Beliau lahir sekitar tahun 1500-an di Al-Quds, Palestina.

Sunan Kudus merupakan putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji. Ibundanya adalah Syarifah Ruhil atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel.

Kakek Sunan Kudus dari pihak ayah adalah Sayyid Fadhal Ali Murtazha  yang berhijrah fi sabilillah hingga ke tanah Jawa, termasuk ke Kesultanan Islam Demak.

Melalui sang Ayah inilah Sunan Kudus belajar agama Islam secara mendasar. Selain itu, Sunan Kudus juga belajar Islam melalui Kyai Telingsing, yang sudah berdakwah Islam di Jawa sebelum kedatangan Sunan Kudus.

Kyai Telingsing datang ke tanah Jawa bersama rombongan Panglima Cheng Ho alias Haji Mahmud Shams, seorang pelaut dan penjelajah Tiongkok yang pernah melakukan ekspedisi ke Nusantara antara tahun 1405 hingga 1433 masehi.

Selama berada di wilayah Kesultanan Demak, berbagai jabatan pernah diamanahkan kepada Sunan Kudus, yaitu Penasihat Kesultanan, Panglima Perang, Qadhi (Hakim Syariat), Mufti (Pemberi Fatwa), Imam Besar Masjid Demak dan Masjid Kudus, dan sebagainya.

Pendekatan kebudayaan juga ditempuh Sunan Kudus dalam upayanya mensyiarkan Islam di tengah-tengah masyarakat yang beragama Hindu dan Budha. Sehingga, dakwah yang disampaikan lebih mudah diterima dan tidak bernuansa indoktrinasi.

Sunan Kudus membolehkan siapa saja mempelajari Islam meski belum tergugah menjadi Muslim. Namun seiring waktu berjalan, setelah mereka mengenal dan memahami Islam, hidayah Allah pun tercurah kepada mereka. Mereka menjadi Muslim didorong oleh keinginan dan keikhlasan masing-masing.

Sunan Kudus membangun masjid dilengkapi dengan menara yang mirip dengan bangunan Candi Jago atau serupa juga dengan bangunan Pura di Bali. Fungsi menara itu sebagai tempat adzan dan tempat untuk memukul bedug setiap kali datangnya bulan Ramadhan.

Secara khusus Sunan Kudus mendisain tempat wudhu berbentuk pancuran berjumlah delapan titik. Tiap-tiap pancurannya dihiasi dengan relief arca sebagai ornamen penambah estetika. Jumlah delapan pada pancuran mengadopsi dari ajaran Budha yakni Asta Sanghika Marga atau Delapan Jalan Utama yang menjadi pegangan masyarakat saat itu dalam kehidupannya.

Pada masa itu di kalangan masyarakat Hindu dan Budha dikenal acara adat yang dinilai sakral yaitu Mitoni, sebagai ungapan rasa syukur atas karunia Tuhan. Mitoni dipraktekkan dengan cara mempersembahkan berbagai sesajen kepada patung dan arca. Kemudian Sunan Kudus menyesuaikan kebiasaan itu dengan nilai-nilai Islami.

Penyesuaian juga dilakukan saat Idhul Adha. Sunan Kudus menjadikan kerbau sebagai hewan kurban, karena sapi merupakan hewan yang dihormati masyarakat beragama Hindu.

Sunan Kudus juga sempat menjabat sebagai Senopati Demak, menggantikan ayahandanya. Sebagai Senopati, Sunan Kudus tetap menyampaikan syiar Islam di daerah Kudus dan sekitarnya, dengan mengutamakan sikap tenang dan halus.

Dalam bidang kesenian, Sunan Kudus mencipta karya syair tembang macapat maskumambang dan mijil untuk kepentingan dakwah Islam.

Beliau wafat pada tahun 1550 masehi, saat menjadi Imam sholat Subuh di Masjid Menara Kudus, dalam posisi sujud, kemudian dimakamkan di lingkungan Masjid Menara Kudus.

LihatTutupKomentar