Sejarah Wali Songo Sunan GRESIK Alias Maulana Malik Ibrahim

BREAKING NEWS

Advertisement

Sejarah Wali Songo Sunan GRESIK Alias Maulana Malik Ibrahim

Monday, March 2, 2020

Sejarah Wali Songo Sunan GRESIK Alias Maulana Malik Ibrahim
Sejarah Wali Songo Sunan GRESIK Alias Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim atau lebih dikenal dengan nama Sunan Gresik, merupakan salah satu dari sembilan wali, pegiat syi’ar Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Merujuk kepada Babad Tanah Jawi versi J.J. Meinsma, disebutkan bahwa Maulana Malik Ibrahim adalah anak dari Syekh Jumadil Qubro, yang lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Nama lain Maulana Malik Ibrahim selain Sunan Gresik adalah Syekh Maghribi, dan Makhdum Ibrahim Al-Samarqandi. Orang Jawa menyebutnya Asmorokondi. 
 
Maulana Malik Ibrahim disebut-sebut sebagai wali pertama yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, sehingga dikenal sebagai wali senior di antara para Walisongo lainnya. Sebelum berdakwah ke tanah Jawa, Maulana Malik Ibrahim bermukim di Champa selama tiga belas tahun. Beliau menikahi putri raja yang memberinya dua putra, yaitu Raden Rahmat atau Sunan Ampel dan Sayid Ali Murtadha atau Raden Santri. Setelah cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, Maulana Malik Ibrahim hijrah ke pulau Jawa dan meninggalkan keluarganya. 
 
Beliau menyebarkan Islam dimulai dengan mendirikan masjid di desa Pasucinan (Suci), Manyar. Sejak kecil, Maulana Malik Ibrahim tergolong anak cerdas dan alim, serta berwatak mulia. Sesudah mendapat didikan agama dari Ayahnya, maka pada abad ke-13 Masehi atau tahun 801 Hijriyah, Maulana Malik Ibrahim ditugaskan Ayahnya untuk menjalankan dakwah Islam ke Asia Tenggara. Dengan perahu layar Maulana Malik Ibrahim melintasi samudra luas demi mentaati perintah Ayahnya. Hingga akhirnya sampailah Maulana Malik Ibrahim di pelabuhan Gresik. Saat itu, pelabuhan Gresik merupakan salah satu pelabuhan yang cukup besar di Asia Tenggara, bahkan menjadi Bandar penting bagi Kerajaan Majapahit. Setelah mendarat di kota Gresik, Maulana Malik Ibrahim memilih tempat di sebuah desa bernama Leran. Di desa itulah, pada tahun 801 Hijriyah atau tahun 1392 Masehi, beliau mulai menjalankan dakwah Islam. 
 
Dalam waktu yang relatif singkat, keberadaan Maulana Malik Ibrahim dapat diterima masyarakat setempat, bahkan beliau dijadikan juru damai ketika ada anggota masyarakat yang berselisih. Dalam berdakwah, Maulana Malik Ibrahim merangkul masyarakat bawah atau kasta yang disisihkan dalam komunitas Hindu dengan berperan sebagai Tabib, mengobati masyarakat secara gratis. 
 
Sebagai tabib, beliau pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Champa atau Cempa. Beliau juga berdagang dengan membuka warung yang menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Maulana Malik Ibrahim juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Upaya memperkenalkan Islam dilakukan beliau dengan cara tidak menentang secara tajam agama dan kepercayaan yang hidup dari penduduk asli, melainkan dengan memperlihatkan keindahan dan kebaikan yang diajarkan Islam. Berkat keramah-tamahannya, banyak masyarakat yang tertarik masuk Islam. Keberadaan Maulana Malik Ibrahim pun kian eksis. Beliau kemudian melakukan kunjungan ke Ibukota Majapahit di Trowulan. Raja Majapahit meskipun tidak masuk Islam tetapi menerimanya dengan baik, bahkan memberikannya sebidang tanah di pinggiran kota Gresik. Wilayah itulah kini dikenal dengan nama desa Gapura. 
 
Dalam rangka mempersiapkan kader untuk melanjutkan perjuangan menegakkan ajaran Islam, Maulana Malik Ibrahim membuka pesantren di daerah itu, yang merupakan kawah condrodimuko bagi estafeta perjuangan agama Islam di masa-masa selanjutnya. Pada tahun 1419 Masehi atau 882 Hijriyah Maulana Malik Ibrahim meninggal di Gresik.

Featured Post

Pendaftaran CPNS 2021 Dibuka Kembali

Pendaftaran CPNS 2021 Dibuka Kembali KARAWANGPORTAL - Pemerintah memutuskan tak akan membuka tes seleksi calon pegawai negeri sipil (CP...