Sejarah Laksamana MALAHAYATI, Perempuan Perkasa Dari ACEH

BREAKING NEWS

Advertisement

Sejarah Laksamana MALAHAYATI, Perempuan Perkasa Dari ACEH

Wednesday, April 29, 2020


Sejarah Laksamana MALAHAYATI, Perempuan Perkasa Dari ACEH
Sejarah Laksamana MALAHAYATI, Perempuan Perkasa Dari ACEH
Sekitar pertengahan Juni 1599, dua kapal besar berbendera Belanda merapat ke Pelabuhan Aceh. Kapal pertama dinakhodai oleh Frederick de Houtman. Satunya lagi dinakhodai oleh Cornelis de Houtman. Tujuannya jelas untuk mendapatkan rempah-rempah.

Semula rakyat Aceh menerima kedatangan de Houtman bersaudara dengan sambutan baik. Karena, selama ini hubungan para pendatang dari Eropa itu dengan rakyat dan Kesultanan Aceh Darussalam terjalin dengan baik. Namun karena perangai de Houtman yang tidak bersahabat, membuat rakyat Aceh marah.

Malahayati memimpin sekitar 2.000 orang armada, sebagian besar adalah para janda yang ditinggal suaminya berperang di Teluk Haru, Selat Malaka, dan tewas sebagai syuhada. Suami Malahayati, Tuanku Mahmuddin Bin Said Al Latief, termasuk satu diantara para syuhada yang melawan armada laut Portugis itu.

Pasca kematian suaminya itulah Malahayati memutuskan untuk membentuk armada yang terdiri dari para janda dan gadis. Ia meminta Sultan Saidil Mukammil Alaudin Riayat Syah untuk memenuhi permintaannya. Armada perempuan tersebut dikenal dengan nama Inong Balee.

Bersama pasukannya, Malahayati melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda pada tanggal 11 September 1599, sekaligus menewaskan Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal. Sementara itu Frederick de Houtman sempat menjadi tawanan pasukan Aceh, kemudian bisa pulang ke Belanda.

Nama aslinya adalah Keumalahayati. Ayah dan kakeknya juga seorang Laksamana. Ayahnya bernama Mahmud Syah, sedangkan kakeknya bernama Muhammad Said Syah. Kakek buyutnya adalah Sultan Salahuddin Syah yang memerintah Kesultanan Aceh sekitar tahun 1530–1539 masehi.

Sejak pra remaja kecenderungan Malahayati sudah menunjukkan arah yang jelas. Ia gemar berlatih ketangkasan militeristik. Tahapan berikutnya, Malahayati menempuh pendidikan di akademi ketentaraan Kesultanan Aceh Darussalam, yaitu Ma’had Baitul Maqdis. Beberapa instrukturnya direkrut dari Turki. Malahayati merupakan lulusan terbaik.

Pada masa kepemimpinan Sultan Saidil Mukammil Alaudin Riayat Syah (1589-1604), Malahayati ditunjuk menjadi Kepala Pengawal dan Protokol di Dalam dan Luar Istana, berpasangan dengan Cut Limpah yang bertugas sebagai petugas Dinas Rahasia dan Intelijen Negara. Malahayati menggantikan posisinya suaminya.

Bahkan, Sultan Saidil Mukammil Alaudin Riayat Syah memberinya kepercayaan menduduki pucuk pimpinan tertinggi angkatan laut kerajaan, dengan pangkat Laksamana. Malahayati disebut-sebut sebagai Laksamana laut perempuan pertama di Nusantara, bahkan mungkin di dunia.

Beberapa tahun setelah pertempuran itu, Laksamana Malahayati wafat di tahun 1604. Jenazahnya dimakamkan di kaki Bukit Krueng Raya, Lamreh, Aceh Besar.

Sebelum dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 6 November 2017, nama Malahayati sudah diabadikan sebagai nama pelabuhan laut di Teluk Krueng Raya, Aceh Besar, sejak 4 April 1977. Salah satu kapal perang (fregat) milik TNI Angkatan Laut dinamakan KRI Malahayati. Di Bandar Lampung, ada Universitas Malahayati yang terletak di Kecamatan Kemiling.

Featured Post

Digosipin Anunya Kecil ke Publik, ASN Laporkan Istri ke Polisi

KARAWANGPORTAL - H (48), seorang ASN yang bertugas sebagai kepala pasar di Kabupaten Probolinggo, melaporkan istrinya, P (46) ke Polres Pro...