China Kirim Vaksin Cocid ke Indonesia, Masih Relevan Ngomongin Vaksin?

BREAKING NEWS

Advertisement

China Kirim Vaksin Cocid ke Indonesia, Masih Relevan Ngomongin Vaksin?

Monday, July 20, 2020

China Kirim Vaksin Cocid ke Indonesia, Masih Relevan Ngomongin Vaksin?
Image Detikcom China Kirim Vaksin Cocid ke Indonesia, Masih Relevan Ngomongin Vaksin?
KARAWANGPORTAL - Hari ini saya membaca berita bahwa vaksin covid dari china sudah tiba di Indonesia. katanya, vaksin tersebut akan segera memasuki uji klinis tahap 3.

Reaksi sebagian besar kita tentu saja senang. Karena berita tersebut seolah menjadi setitik cahaya di tengah gelap pandemi. Sebagian lagi agak nakal dengan menyinggung kecinaannya. Orangnya ditolak, eh obatnya diterima. Begitu kira-kira.

Tapi saya yang gara-gara crown ini jadi belajar tentang dunia medis, melihat berita tersebut terlalu bombastis – kalau tak mau dinilai trick. Bagaimana bisa ada vaksin yang akan uji klinis tahap 3, sementara untuk tahap 1 saja perlu waktu sekitar 5 sampai 6 bulan. Sementara covid di China muncul pada Januari, atau katakanlah Desember. Ini kan baru bulan Juli, mana bisa langsung tahap 3?

Sebenarnya, jika yang bermain dengan proyek vaksin-vaksinan ini bukan kementerian, kita maklum saja. Mungkin mereka lagi mengais rejeki di tengah pandemi. Tapi kalau kementerian, bagian dari pemerintah, mestinya kita semua berpikir cerdas dan taktis demi kebaikan bersama. Demi masyarakat Indonesia. bukan sebatas demi anggaran dan charge proyek.

Di awal-awal, oke lah kita salah langkah. Tak masalah kalau kita baru belajar menghadapi pandemi, sehingga agak gagap. Tapi kenapa kita tidak mau memperbaiki kesalahan-kesalahan.

5 bulan sudah covid berada di Indonesia. information terakhir, sebanyak 88.214 orang positif covid. 46.997 sembuh dan 4.239 meninggal dunia.

Angka-angka ini memberikan informasi yang sangat jelas, bahwa meskipun belum ada vaksinnya, mayoritas orang bisa sembuh dengan sendirinya. Jumlah orang yang meninggal juga sangat sedikit (tak sebanding dengan yang sembuh). Dan itupun, yang meninggal itu, selalu karena penyakit bawaan.

Jadi kalau sebelum ada crown, misal ada orang jatuh di kamar mandi lalu dibawa ke rumah sakit dan meninggal dunia. Kita mungkin akan mendengar yang bersangkutan meninggal karena penyakit bawaannya. Semisal jantung, asma, kanker dan lain-lain. Bukan meninggal karena jatuh.

Nah sekarang, yang jatuh atau patah tulang harus periksa covid dulu. Pasien tabrakan juga ada yang divonis positif covid. Kita mendadak lupa dengan penyakit ganas lainnya. Orang yang berpuluh tahun sakit kanker, kalau terkena covid, status meninggalnya jadi positif covid. Bukan meninggal karena kanker lagi.

Kalaupun vaksin sudah uji klinis hari ini, jalur distribusinya masih perlu waktu berbulan-bulan. Dan dalam jangka waktu berbulan-bulan itu, jumlah orang yang sembuh akan jauh lebih banyak dari jumlah orang yang mendapat vaksin.

Saya tak mempermasalahkan jika itu dilakukan demi penelitian atau keilmuan. Silahkan saja. Tapi sebaiknya itu dilandasi dengan logika dan kejujuran. Jangan karena ingin mendapat dukungan publik, sampai melupakan logika, etika atau kewajaran.

Tapi okelah, katakan ada jalur cepat dan darurat. Sehingga uji klinis tahap 3 bisa segera dilakukan. Pertanyaannya, apakah relevan kita bicara soal vaksin setelah berbulan-bulan menghadapi covid?

Covid tidak mematikan adalah fakta. Covid sembuh sendiri juga fakta. Lebih banyak yang sembuh ketimbang yang mati, juga fakta. Sebelum membahas teori medis dan yang rumit-rumit, terima dulu ini sebagai ken yataan, baru kita bicara soal solusi dan langkah-langkahnya.

Kita harus mengakui bahwa PSBB atau lockdown ternyata tidak mampu mencegah penyebaran infection. Kita juga mulai sadar bahwa yang bisa dilakukan hanya meminimalisir jumlah kematian. Dan kabar baiknya, solusi untuk meminimalisir kematian sudah ada, yakni terapi plasma.

Sampai hari ini, sudah sebelas orang pasien kondisi buruk dinyatakan sembuh berkat terapi plasma. Kesebelas orang ini semuanya memiliki penyakit bawaan. Hanya 3 orang yang meninggal dunia meski telah diberi plasma. Artinya tingkat kesembuhannya sangat tinggi.

Maka kalau saya jadi Presiden, status darurat nasional akan saya cabut. PSBB di Jakarta dicabut dan kembali ordinary. Gugus Tugas dibubarkan. Hapus aturan wajib quick test untuk penumpang pesawat dan kereta yang ternyata tidak ada gunanya itu.

Selanjutnya saya minta information lengkap pasien yang sembuh, lengkap dengan alamat dan nomer hape yang bisa dihubungi, kemudian diserahkan pada Menkes. Selanjutnya instruksi agar semua pasien kondisi buruk langsung diberi plasma. Kalau plasmanya tidak tersedia, bisa hubungi pasien-pasien yang sudah sembuh.

Dengan begitu, urusan covid ini sudah selesai. Tidak perlu dibahas lagi, tidak perlu sibuk menganggarkan vaksin.

Saya sudah menyakini ini sejak bulan Maret. Sejak Dokter Monica mengirimkan surat usulan terapi plasma pada Presiden. Dan kini setelah bulan Juli, semua keyakinan saya ini terbukti. Dengan information dan kenyataan di lapangan.

Saya tahu, banyak orang masih berusaha memperpanjang status darurat nasional covid. Karena ini melibatkan banyak anggaran yang menggiurkan. Saya juga tahu bahwa upaya melakukan penerapan terapi plasma ditolak oleh banyak pihak, termasuk kementerian terkait. Tapi saya selalu yakin, bahwa kebenaran itu seperti cahaya. Tak ada gelap yang mampu menghalanginya. Begitulah kura-kura.

Featured Post

Digosipin Anunya Kecil ke Publik, ASN Laporkan Istri ke Polisi

KARAWANGPORTAL - H (48), seorang ASN yang bertugas sebagai kepala pasar di Kabupaten Probolinggo, melaporkan istrinya, P (46) ke Polres Pro...