Sejarah Belanda di Indonesia VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie)

BREAKING NEWS

Advertisement

Sejarah Belanda di Indonesia VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie)

Monday, August 17, 2020

Sejarah Belanda di Indonesia VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie)
Sejarah Belanda di Indonesia VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie)
KARAWANGPORTAL - VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) itu sebuah perusahaan. Semacam kongsi dagang yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602. Didirikan oleh enam perusahaan dagang dengan tujuan memperkuat armada dagang Belanda menghadapi pesaingnya, yaitu Spanyol dan Portugis.

Spanyol dan Portugis dianggap merintangi jalan Belanda menguasai jalur perdagangan, khususnya ke kepulauan rempah-rempah di Nusantara. Meski hanya kompeni dagang, namun VOC memiliki kewenangan yang menyerupai negara.

VOC adalah simbol kolonialisme dan imperialisme Belanda. Akhirnya, bangkrut akibat korupsi yang gila-gilaan. VOC bangkrut pada tahun 1799.

Setidaknya ada 10 fakta menarik seputar VOC yang perlu anda ketahui. Simak terus video ini. Jangan lupa subscribe dan share, serta aktifkan lonceng tanda notifikasi.

Pertama, VOC hanya berminat pada Gold dan Glory.

VOC tidak mengemban misi mengekspor agama, juga tidak berminat menyebarluaskan bahasa Belanda. Berbeda dengan Portugis dan Spanyol yang mengemban misi gold, glory dan gospel (kekayaan, kejayaan, dan penyebaran agama), VOC hanya berminat pada gold dan glory saja. 

Untuk urusan agama, VOC justru membatasi dengan ketat kiprah para pendeta protestan yang jumlahnya kurang dari seribu di seluruh wilayah VOC di Asia. Pelayanan rohani para pendeta dibatasi hanya kepada komunitas Eropa yang kecil dan komunitas-komunitas yang telah dikristenkan oleh Portugis, seperti Ambon, Minahasa, dan Malaka.

Kedua, VOC punya Hak Istimewa.

Meski VOC hanyalah kongsi dagang, namun ia memiliki hak istimewa (octrooi) dari Kerajaan Belanda.

Hak istimewa itu berupa monopoli perdagangan, memiliki mata uang tersendiri, mewakili pemerintah Belanda di Asia, menyelenggarakan sistem pemerintahan sendiri, mengadakan perjanjian dengan para penguasa lokal, menjalankan kekuasaan kehakiman, memungut pajak, memiliki angkatan perang, juga mempunyai hak istimewa untuk menyatakan perang.

Ketiga, Dokumen tentang VOC dijaga ketat.

VOC dikelola oleh 17 direktur yang disebut De Heeren Zeventien. Di dalam ruang sidang De Heeren Zeventien di Amsterdam, terdapat sebuah lemari besar untuk menyimpan berbagai dokumen VOC. Lemari tersebut hanya bisa dibuka dengan 17 kunci yang dipegang masing-masing anggota De Heeren Zeventien  tadi. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sangat menjaga kerahasiaan bisnis dagang VOC.

Keempat, Pegawai VOC Berasal dari berbagai negara.

Meski VOC identik dengan Kerajaan Belanda, namun hanya sebagian kecil saja dari sekian banyak pegawai VOC yang asli orang Belanda.

Contohnya, pada tahun 1622, di Batavia terdapat 143 tentara. Terdiri dari 17 orang Vlaams atau Wallon. Selain itu ada sekitar 60 orang berasal dari berbagai negara seperti Jerman, Swiss, Inggris, Skotlandia, Irlandia, dan Denmark. Ada juga sekitar 9 orang lainnya yang tidak jelas asal usulnya. Sedangkan pegawai VOC yang benar-benar kelahiran Belanda hanya berjumlah 57 orang.

Pegawai dari Jerman, dari waktu ke waktu menunjukkan peningkatan. Mereka ada yang menjadi tentara atau menjadi tenaga ahli, misalnya ahli bedah atau insinyur pertambangan.

Kelima, VOC menerapkan monopoli perdagangan yang ketat.

VOC melakukan monopoli perdagangan dengan sangat ketat. Artinya, VOC sama sekali tidak memberi kesempatan kepada siapa pun untuk melakukan perdagangan rempah-rempah dan hasil bumi lainnya secara perorangan, baik dengan Eropa maupun negeri-negeri Asia lainnya. Para pelaku perdagangan gelap akan berhadapan dengan risiko yang sangat besar.

Orang-orang Eropa yang tidak lagi menjadi pegawai VOC (compagniesdienaren) dan menjadi warga bebas (vrijburgers), hanya punya peluang berusaha di sektor-sektor yang kurang menguntungkan, seperti pertanian, perdagangan bahan pangan, rumah makan, dan rentenir. Di sektor ini, mereka harus bersaing dengan para pedagang Tionghoa.

Keenam, mendirikan perkampungan.

VOC sudah menguasai Batavia sejak tahun 1691. Dalam rangka membangun Batavia, VOC mendatangkan sejumlah orang dari berbagai pelosok Nusantara, juga dari berbagai belahan dunia.

Setidaknya ada lebih dari 40 kelompok masyarakat yang berasal dari berbagai wilayah di Nusantara dan dunia, yang membangun Batavia. Jumlah mereka mencapai 128.000 jiwa. Enam ratus jiwa diantaranya adalah orang Eropa.

VOC menyediakan lahan bagi mereka, untuk membangun sebuah perkampungan berdasarkan latar belakang suku masing-masing. Kampung tertua adalah Kampung Banda, merupakan hasil migrasi yang dilakukan gubernur jenderal Jan Pieterszoon Coen pada 1621. Hingga kini, jejak kampung-kampung di Batavia dan sekitarnya masih bisa ditemukan sesuai nama etnisnya, ada Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Ambon, dan lain-lain.

Ketujuh, larangan membawa wanita.

Meski Nusantara dikenal sebagai sorga, kebijakan VOC yang keras nyaris tak mengizinkan perempuan turut serta dalam pelayaran. Ini menjadi alasan kuat sehingga seorang perempuan harus menyamar sebagai laki-laki (transvestisme).

Oleh karena itu, menurut Denys Lombard, orang-orang Belanda yang baru tiba di Hindia cenderung mengawini gadis-gadis Indo yang berayah Portugis. Sebagian besar dari para gadis indo itu berasal dari Makassar dan Bali. Melalui perkawinan ini telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan penduduk Batavia.

Kedelapan, VOC menjadikan budak sebagai komoditas.

De Heereen Seventien sempat kewalahan menangani soal budak yang dibawa orang Belanda sekembalinya mereka dari Nusantara. Markas VOC di Amsterdam direpotkan mengurusi perawatan budak yang ditinggalkan pemiliknya. Juga, disibukkan oleh para budak yang minta dikembalikan negeri asalnya.

Akhirnya, VOC mengeluarkan aturan untuk membatasi budak yang boleh dibawa ke negeri Belanda. Para budak itu kebanyakan berasal dari Sulawesi dan Bali. Mereka dibutuhkan sebagai tenaga kerja, juga menjadi simbol status sosial para majikannya. Sebagian dari para budak tadi, ada yang dirawat sebaik mungkin, ada juga yang mengalami penindasan. Setelah VOC runtuh, perbudakan masih terjadi di Hindia Belanda.

Kesembilan, komoditas selain rempah-rempah.

Ketika harga rempah-rempah turun dan tak lagi menjadi komoditas primadona, VOC tak kehilangan akal. Untuk tetap bertahan melakukan perdagangan, VOC kemudian memperdagangkan berbagai komoditas. Maka, VOC pun mengangkut dan menjual ragam komoditas khas negeri tropis, seperti ayam, beras, kuda, bahkan budak.

Kesepuluh, orang Belanda pantang menetap.

Jika orang Portugis berniat menetap dan beranak-pinak ketika tiba di Asia, orang Belanda tidak. Orang-orang Belanda selalu ingin pulang ke negerinya jika masa tugas sudah berakhir. Hal ini terlihat dari jumlah penduduk di Batavia yang tak didominasi orang Eropa. Dalam tahun 1674, jumlah mereka kurang dari sepersepuluh penduduk Batavia.

Ada sejumlah alasan yang membuat orang Belanda tidak ingin menetap. Pertama, karena tujuan mereka hanya ingin mencari kekayaan. Kedua, VOC tidak memberi kelonggaran kepada prakarsa perorangan. Ketiga, tidak ada sarana untuk memperkenalkan dan menyesuaikan kebudayaan Belanda. Keempat, karena faktor cuaca dan ketidakberdayaan para dokter, menyebabkan Batavia dianggap sebagai kuburan orang Eropa.

Featured Post

Pesta Seks dengan Bule Demi Punya Anak Blasteran, 'Kalau Gak Hamil Ikut Lagi'

Pesta Seks dengan Bule Demi Punya Anak Blasteran, 'Kalau Gak Hamil Ikut Lagi' KARAWANGPORTAL - Pengakuan blak-blakan seorang...