Notification

×

Iklan

Iklan

>

AM Hendropriyono Beberkan Soal Peristiwa Talangsari, Persahabatan, Ideologi, hingga Kebangsaan

Monday, May 24, 2021 | Monday, May 24, 2021 WIB Last Updated 2021-05-24T14:10:14Z

KARAWANG PORTAL
AM Hendropriyono Beberkan Soal Peristiwa Talangsari

 

KARAWANGPORTAL - Publik banyak yang penasaran tentang peristiwa Talangsari. Tentang peran AM Hendropriyono yang menghebohkan. Buku SPY SI (Sebagian Pengalaman Yang Saya Ingat) yang ditulis oleh Jenderal (Purn) AM Handropriyono membuat saya tertegun. SPY SI Bagian I Zaman Revolusi Fisik ini mengenalkan ketokohan AM Hendropriyono secara lebih utuh.

Peristiwa Talangsari Warsidi dipaparkan dalam buku setebal 203 halaman itu. Ternyata Hendropriyono bekerja profesional dan cermat. Dia juga memrotes penangkapan terhadap Kyai Abdul Gani Masykur dan membebaskannya.

Secara pribadi, saya memahama. Meski bacaan saya saat itu majalah Panji Masyarakat, saya sebagai remaja pun mendukung penumpasan terhadap gerakan politik berlatar belakang DI/TII (Darul Islam/Tentara Nasional Indonesia) Talangsari pada 1989 itu.

Akar masalah peristiwa itu adalah apa yang disebut AM Hendropriyono sebagai para penganut Islam politik. Islam yang berbeda dengan Islam yang diyakini oleh mayoritas Muslim Indonesia. Akar DI/TII ini kini menjelma menjadi kaum radikal dan teroris yang harus ditumpas. Pandangan itu sepenuhnya berdasarkan dari pemahaman yang jernih AM Hendropriyono.

Sebelumnya, pada 20 Januari 1985, Mohammad Jawad dan Achmad Muladawila membom Borobudur, merontokkan 9 stupa dan 4 patung. Setelah itu mereka merancang membom Kuta, bom meladak di Sumber Kencono, Banyuwangi. Tujuh orang tewas. Tiga orang teroris Abdul Hakim, Hamzah Supriyono dan Imam Gozali Hasan tewas. Abdulkadir Ali Al-Habsyi yang juga perancang bom Borobudur lolos dari maut. Jawad Kresna yang sampai sekarang kabur ke Iran tidak tertangkap.

AM Hendropriyono sangat mendalami pergolakan ideologi bangsa. Sekaligus dia membangun keyakinan ideologi berdasarkan kebangsaan, nasionalisme, religiositas, keberagamaan, internasionalisme, anti imperialism, dan keberagamaan, mengikuti Bung Karno dan Bung Hatta. Secara jelas dia mengidolakan dwi tunggal tersebut.

Karena sejak kecil dia sudah mengalami suasana ambience Soekarno, Bung Hatta, termasuk keluarga mereka. Magawati dan Mas Tok alias Guntur Soekarnoputra mendapat tempat istimewa dalam jiwa sosok yang ketika kecil hidup dalam keterbatasan, sampai susah makan.

Spirit kebangsaan dan nasionalisme Hendropriyono terbangun lewat mendengarkan pidato Bung Karno. Dia menjadi seorang remaja yang bernafsu membela negara. Hendropriyono remaja kecewa karena gagal untuk dikirimkan ke medan perang Irian Barat zaman Trikora. Sebagai gantinya dia diajari baris-berbaris bagi anak-anak SMP. Kekecewaan itu dibayar lunas dengan semangat masuk Akademi Militer Nasional.

Energi nasionalisme dari SMP pada 1957 dan SMA pada 1960 menghasilkan pertemanan yang banyak menghasilkan tokoh militer dan polisi. Para pejuang sejati. Ada Letjen Farid Zainuddin, Mayjen Yasir Mansur, Mayjen Addy Mashud, Mayjen Oca Santosa, Kolonel Didi Sugandi, Kolonel Budi Purnama, Mayjen Glenny Kairupan, Laksamana Marsetio, Irjenpol Moh Hidayat, Kolonel Yayat Hidayat, dan lainnya yang berjumlah 71 orang.

Dari anggota Kerukunan Keluarga Alumni (Kekal) angkatan 1967 yang gugur di medan pertempuran 15 orang, 10 di antaranya tewas di Timor Timur.

SPY SI ini memberikan informasi tangan pertama tentang intrik politik. Bahkan catatan tentang salah sasaran Jenderal AH Nasution membersihkan Angkatan Darat. SPY SI memaparkan intrik politik yang ditulis dengan sopan, elegan, dan cerdas tanpa kehilangan benang merah kebenarannya.

Pemahaman tentang Islam, asal-usul keturunannya, membuat dia intens berhubungan dengan pergerakan orang dan kebudayaan Sumatera Barat. Itu membuat pemahaman jernih tentang radikalisme, sejarah, yang kelak membentuk AM Hendropriyono. Hingga sikap tegasnya terhadap gerakan radikal dan terorisme.

Tentang DI/TII pun, AM Hendropriyono lebih jernih melihat dari kekosongan kekuatan militer Divisi Siliwangi yang meninggalkan Jawa Barat. Pada 1949, teroris Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo pun adalah kaki tangan proxy Belanda, yang pernah bekerja sama dengan teroris Raymond Westerling, lewat Carlson dan van Kleef. SPY SI menorehkan catatan penting dan kaya tentang PKI, Bung Karno, militerisme, pergulatan politik dalam pandangan AM Hendropriyono.

Yang sangat menarik bagi saya adalah uraian yang menyangkut kawan dan lawan dikemas tanpa menghinakan. Bahkan ketika ada perbedaan pendapat, termasuk dengan Jend A.H. Nasution, yang akhirnya mereka menjadi sangat dekat. Nasution menghadiahinya buku 9 jilid berjudul Memenuhi Panggilan Tugas karya Jend. Dr. A.H. Nasution.

SPY SI mengungkap pergolakan politik sejak 1950-an sampai pasca PKI. Begitu dalam pemahaman AM Hendropriyono melihat pergolakan dengan latar belakang keterikatan dan pengalaman pribadi, yang justru jauh dari sifat subyektif.

Lewat uraian tentang Kekal Akmil 1967, justru kita bisa melihat betapa kekuatan akses, koneksi, pertemanan, yang membangun kemampuan intelijen AM Hendropriyono begitu mumpuni. Penguasaan intelijen yang luar biasa dimanfaatkan oleh AM Hendropriyono untuk menegakkan kebenaran.

Pun kemampuan bidang bidang intelijen juga didasari oleh kecerdasan dan dasar ideologi kebangsaan Pancasila yang kuat. Ada fokus tujuan dalam melakukan dan mendalami pekerjaan dalam diri AM Handropriyono. Semua berawal dari Dwi Tunggal: Soekarno-Hatta. (Resensi oleh: Ninoy Karundeng) (niko).***KILAT.COM***

 

 


 

×
Berita Terbaru Update