Notification

×

Iklan

Iklan

Hendropriyono: TEMPO akan Ditinggal Pembacanya Jika Terus Tebar Fitnah

Wednesday, June 16, 2021 | 13:03 WIB Last Updated 2021-06-16T06:03:28Z

karawangportal
Image : senayanpost

 

KARAWANGPORTAL - JAKARTA, Di Salin Dari Halaman SENAYANPOST.com - Meskipun merasa  menjadi korban fitnah  Majalah TEMPO, AM Hendropriyono tidak marah. Guru Besar Intelijen itu  justru  merasa sayang dan melayangkan nasihat agar TEMPO selalu cover both side  dalam kebijakan  pemberitaannya.

Majalah TEMPO edisi terbaru (14-20 Juni 221) menulis berita dengan judul mencolok di halaman 36, "Lobi Mertua Calon Panglima". AM Hendropriyono diceritakan bersama istri  bertandang ke Istana Negara pada 7 Mei 2021 menemui Presiden Joko Widodo. 

Setelah menyampaikan kondisi politik terbaru kepada Presiden,  dia diberitakan  mendorong Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa untuk menjadi Panglima TNI. TEMPO menyebut sumbernya dari tiga purnawirawan, tanpa menjelaskan identitas ketiganya.

Hendropriyono menganggap tulisan majalah TEMPO itu tidak benar. "Tiga orang purnawirawan yang tidak disebut namanya itu yang dijadikannya sumber berita, tidak berada bersama kami, yaitu saya, istri saya dan Pak Jokowi ketika kami bertemu. Jadi tidak relevan untuk dapat dijadikan sumber berita bagi suatu liputan pers yang profesional dan kredibel," kata Hendropriyono menjawab pertanyaan wartawan, Rabu (16/6/2021).

Dalam beritanya di halaman 38 edisi itu TEMPO menulis bahwa pihaknya telah menelepon dan melayangkan pesan kepada Hendropriyono, tapi tidak direspon.

Purnawirawan Jenderal TNI itu menyebut usaha cover both side TEMPO yang gagal menghubunginya itu bukan  merupakan kegagalan dirinya. "Justru itu adalah kegagalannya sendiri. Kegagalan TEMPO untuk mendapatkan sumber berita, tidak bisa dijadikan dalih untuk mengarang cerita. Itu namanya fitnah," lanjut Hendropriyono.

Hendropriyono mengingatkan bahwa menebar fitnah adalah tindak pidana terhadap hukum positif dan  masalah ini diatur dalam Undang-undang ITE. 

"Namun yang paling berat adalah hukuman sosial. Masyarakat bisa memandang rendah dan tidak percaya kepada Majalah TEMPO," lanjut Hendropriyono.

Di akhir wawancara, AM Hendropriyono menyelipkan pesan bijak:  "Saya sampaikan nasihat ini karena  rasa sayang saya kepada teman-teman junior, bahkan sahabat saya yang masih bekerja giat di TEMPO. Jangan marah atas nasihat orang tua ini, karena landasan saya sama sekali bukan rasa benci. Anggaplah sebagai pelajaran untuk beretika bagi TEMPO, yang barangkali juga bermanfaat bagi dunia pers kita dalam kebebasannya." (Jo)

 

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

×
Berita Terbaru Update